"Bismillahirrahmanirrahim...Setiap niat baik, sebaiknya selalu dimulai dengan awalan yang baik, upayakan dengan cara terbaik dan perkara hasil serahkan kepada Allah Yang Maha Sempurna..Begitulah tuntunan para sahabat yang bersumber langsung dari sahabatnya para sahabat yaitu Nabi Muhammad SAW. "
Bisnis Abe

18/02/09

AYO JAMA'AH DI RUANG SOSIAL


AYO JAMA’AH DI RUANG SOSIAL
Nanang Wahid Zatmiko *)


Apapun makanannya minumnya tetap diawali bismillah. Apapun perubahan positif bahan bakarnya tetap dimulai dengan jama’ah. Kalimat-kalimat tersebut memberi arti betapa pentingnya mentransformasikan nilai-nilai ketauhidan dalam setiap sendi kehidupan melalui jam’ah. Karena jam’ah terbentuk bukan karena keterpaksaan, tetapi tuntunan Al-Qur’an. Melalui kitab suci itulah cara pandang masyarakat muslim seharusnya, dimana telah memberikan manifesto kehidupan kini, disini, nanti dan dimanapun serta kapanpun.
Suasana kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat. Jika sistem nilai terbatas pada ”kini dan disini” maka upaya dan ambisinya menjadi terbatas pada ”kini dan disini” pula. Allah tetap menjanjikan kesuksesan mereka apabila menjalankan sunnatullah, tetapi kesuksesan yang terbatas pada ”kini dan disini” selanjutnya akan menjebak diri pada kejenuhan, mandek, akibat rutinitas dan akhirnya sampailah ajal. Al-Qur’an mengemukakan : Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka kami segerakan baginya sekarang (di dunia) ini, apa yang kami kehendaki bagi yang kami kehendaki, kemudian kami tentukan baginya neraka jahannam. Ia akan memasuiknya dalam keadaan tercela dan terusir. (Al-Isra’ ; 18)
Al-qur’an sangat menekankan kebersamaan anggota masyarakat seperti sejarah bersama, tujuan bersama, catatan perbuatan bersama bahkan kebangkitan dan kematian bersama. Dari sini lahir gagasan amar ma’ruf nahi munkar, serta konsep fardhu kifayah dalam arti semua anggota masyarakat memikul dosa bila sebagian mereka tidak melaksanakan kewajiban tertentu.
Meskipun Al-Qur’an menisbatkan watak, kepribadian, kesadaran, kehidupan dan kematian kepala masyarakat, namun Al-Qur’an tetap mengakui peranan individu agar setiap orang bertanggungjawab pada diri dan masyarakat. Kisah keberhasilan rasul, pembesar-besar suatu kaum yang diceritakan al-qur’an maupun dikabarkan antar generasi tentang keberhasilan individu membangun masyarkat dan menentang kebejatan sangat banyak. Keberhasilan mereka pun berdasarkan satu hukum kemasyarakatan yang pasti yang ditopang seluruh anggota masyarakatnya.
Dalam Al-Qur’an sarat dengan uraian tentang hukum yang mengatur lahir, tumbuh dan runtuhnya masyarakat. Sebagian diantaranya tersebut di atas adalah hukum kemasyarakatan yang pasti, tidak berbeda dengan hukum-hukum alam atau bisa dinamakan sunnatullah. Berulang kali dinyatakan dalam Al-Qur’an : ”engkau tidak akan mendapatkan perubahan terhadap sunnatullah” (al-ahzab ;62 )
Salah satu hukum kemasyarakatan yang populer dilafadkah orang meskipun tak jarang diterjemahkan dan dipahami secara keliru adalah firman Allah yang membincang hukum perubahan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satu kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental mereka). (Yusuf ; 11)
Menurut Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an, dikemukakan bahwa ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah, dan kedua, perubahan keadaan diri manusia yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan tuhan terjadi secara pasti melalui hukum kemasyarakatan yang ditetapkan, tidak patut disangkal karena tidak mengenal pembeda-bedaan antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.
Ma bi anfusihim yang diterjemahkan dengan ”apa yang terdapat dalam diri mereka” terdiri dari dua unsur pokok, yaitu nilai-nilai yang dihayati dan iradah (kehendak) manusia. Perpaduan keduanya memiliki daya dorong kuat untuk perubahan atas sesuatu.
Di sini lafadh anfusihim tidak bermakna individual tetapi makna ini tertuju pada masyarakat/kelompok (Qoum) atau diri-diri mereka. Ini berarti bahwa seseorang, betapapun hebat dan briliannya, tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan hawa-hawa perubahan kepada sekian banyak orang, yang pada gilirannya menghasilkan gelombang, atau paling sedikit riak-riak perubahan.
Pentingnya keterikatan antara pribadi dan masyarakat, serta besarnya perhatian Al-Qur’an terhadap menjamurnya perubahan positi, diantarkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang menekankan tanggung jawab perorangan dan tanggung jawab kolektif.
Tidak ada satu makhluk (berakal) pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada tuhan yang maha pemurah sebagai hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam ; 93-95)
Ayat diatas adalah satu dari sekian ayat yang menekankan tanggung jawab individu. Sedangkan tanggung jawab kolektif, salah satunya tertuang dalam arti ayat berikut ini.
(di hari kemudian) kamu akan melihat setiap umat/masyarkat bertekuk lutut, setiap masyarakat diajak untuk membaca kitab amalnya (Al-Jatsyiah ; 28). Al-Qur’an juga menginformasikan bahwa setiap masyarakat mempunyai ajal. Setiap masyarakat mempunyai ajal (Al-A’arfa ; 34).
Kehancuran masyarakat atau sampai pada ajalnya tidak berarti mengakibatkan kematian seluruh anggota masyarakat, bahkan secara individual mereka tetap hidup. Kisah pengusiran Nabi Muhammad dan pengikutnya dari Makkah oleh kafir Quraish menceritakan betapa setelah 10 tahun berselang, kekuasaan, pandangan dan kebijaksanaan kafir quraisy Makkah habis dan berubah total digantikan kebijaksanaan ajaran Rasulullah yang rahmatan lil alamin.
Akhirnya, dalam misi besar di dunia dan akhirat mari kita senantiasa merapakan barisan, dalam jama’ah atau masyarakat kita agar senantiasa diridhoi Allah . Karena hanya dengna ridhonya dan mengikuti sunatullah lah kehidupan kita akan menuai keberhasilan kini, disini, nanti dan dimanapun serta kapanpun Rasa berbagi, bergandengan tangan dan tolong menolong sebagai anggota masyarakat harus kembali kita tanamkan. Pandangan-pandangan dan kebijaksanaan yang mengarahkan pada sikap individulistik harus kita berangus dengan kesukaan terhadap berjam’ah di setiap ruang dan waktu. Junjungan kita Rasulullah saw bersabda : tidaklah sempurna iman seseorang mukmin, sampai ia mengharapkan saudara muslimnya, sebagimana ia mengharapkan dirinya sendiri.


*) Anggota Balitbang PC. PMII Kota Malang.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

bagus deh

Produk Bisnis Abe