"Bismillahirrahmanirrahim...Setiap niat baik, sebaiknya selalu dimulai dengan awalan yang baik, upayakan dengan cara terbaik dan perkara hasil serahkan kepada Allah Yang Maha Sempurna..Begitulah tuntunan para sahabat yang bersumber langsung dari sahabatnya para sahabat yaitu Nabi Muhammad SAW. "
Bisnis Abe
Tampilkan postingan dengan label Orde Lama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orde Lama. Tampilkan semua postingan

23/09/11

Kebersamaan dan Ketulusan

Kebersamaan dan ketulusan akan selalu membuahkan hasil, meskipun hasil itu tidak dapat dirasakan seketika itu. Sahabat-sahabat tentu kenal dengan yang namanya bisnis online macam investasi forex dan gold. Kesempatan ini blogger sahabat, ingin cerita tentang arti sebuah kebersamaan dengan sahabat-sahabat muda yang optimis dan tidak enggan merubah dirinya untuk tujuan lebih. dimulai dengan kumpul-kumpul membahasa forex dan investasi aman, semua hal yang 2 bulan belakangan sulit terwujud, jadi begitu cepatnya tersedia. Padahal, awal pertemuan sahabat-sahabat diliputi kondisi kalang kabut soal ekonomi. Ada yang usaha belum lancar-lancar, proposal yang belum ACC dan piutang yang belum kembali. Tetapi kondisi itu berubah setelah kita merencanakan investasi aman di speedllineinc.com. Hasilnya, sedikit tapi meyakinkan, hari ini Blogger Sahabat tidak lagi nebeng untuk ngeblog..Alhamdulillah.

05/09/11

Memaafkan Itu Dahsyat

Lebaran di tahun ini, Blogger Sahabat turut mengucapkan minal aidhin wal faidhin, maaf apabila ada salah yang telah lalu. Sekaligus ikut berbela sungkawa atas kecelakaan yang menimpa Saiful Jamil. Semoga yang menjadi korban tewas diterima disisinya dan yang ditinggalkan diberi kesabaran.
Selanjutnya, masih dalam suasana lebaran, banyak cerita yang terlewatkan. Susah dan senang tentu blogger sahabat lalui dan sahabat-sahabat sendiri tentunya. Namun, cukuplah itu menjadi kenangan indah tanpa harus terus menerus menceritakannya berulang-ulang. Sebab informasi baru dan ter-update akan terus datang mengisi hari-hari kita selanjutnya. Ikut-ikutan slogan Tung Dasem Waringin, Dahsyat, Ujarnya. Mari ucapkan Dahsyat untuk langkah kita selanjutnya.

03/08/11

Ramdhan Tanpa Korupsi

Ramadhan dengan puasanya telah berlangsung beberapa hari dengan diiringi oleh sepinya pemberitaan tentang korupsi. Tidak terkecuali berita dugaan korupsi dana wisma atlit M. Nazaruddin beberapa waktu lalu.
Yang menjadi sorotan blogger sahabat adalah prasangka baik kepada langganan koruptor yang insaf juga di bulan ini. Blogger sahabat tidak tahu menahu dimana mereka sekarang.
Tapi setidaknya, bagaimanapun kabar mereka hari ini, Blogger Sahabat mengajak syukur masih adanya Bulan Ramadhan di tahun ini.bagaimana tidak, jika dalam sehari saja angka korupsi sampai pada angka 100 terliyun, berarti dalam 30 hari, hampir pasti bisa mengerem korupsi negara sampai angka 3000 terliyun.
Blogger sahabat berandai-andai, apabila ini terjadi, Mari Berkomunitas di Faceblog akan kembali ramai bertukar link dan ekspresi rasa syukur. Alhamdulillah.

24/07/11

Makanan Bergizi, Harus

Di hari anak nasional tahun 2011, tidak jenu-jenunya lontar gagasan sana sini seputar pendidikan anak dan pola asuh anak. Blogger sahabat beranggapan, itu tidak asa salahnya namun kurang strategis.
Masa strategis itu adalah disaat masa pertumbuhn, dimana orang tualah yang berperan penuh dalam asupan gizi untuk kekebalan tubuh anak. Gizi ini bersumber dari bahan makanan yang diberikan pada anak.
Sebaiknya, pilih makanan yang mengandung vitamin dan mineral yang berimbang untuk mengurangi resiko kekurangan energi.

27/05/11

Nazaruddin Kabur ke Singapura

Kabar tentang Kaburnya Nazaruddin Bendahara PD tentu kembali melangkahi Sistem Hukum di Negeri ini yang masih porak poranda pasak Angin Gayus Beliung...Yang ngantri jatah politik malah harus menelan pil pahit di pintu gerbang politik negeri ini..

24/05/11

Rindu (Daripada) Soeharto Nama Soeharto kembali mencuat dalam survei. Kerinduan sesaat atau kebangkitan politik?

JUM'AT, 20 MEI 2011, 18:28 WIB Indra Darmawan, Suryanta Bakti Susila, Ismoko Widjaya, Syahrul Ansyari
VIVAnews--Enam mobil merapat ke satu rumah di Jalan Jambu 1 Menteng Jakarta Pusat. Siang itu, Jumat 20 Mei 2011, Amelia Ahmad Yani --putri sulung almarhum Jendral Ahmad Yani, kedatangan tamu dari Partai Nasional Republik (PRN) atau Nasrep. Ada hajatan kecil rupanya: rapat konsolidasi partai.
Para tetamu duduk di ruang jembar itu. Rapat belum mulai. Mereka masih menunggu seorang penting lain. Dialah Tommy Soeharto, putra bungsu presiden di masa Orde Baru, Soeharto. Tommy adalah tiang. Sebagai Ketua Dewan Penasihat dia turut menghidupi partai itu. Tak heran, bila jauh-jauh hari sebelum deklarasi, partai ini akan mengusung Tommy Soeharto sebagai calon presiden RI.
Siang itu hari agak terik, dan listrik padam. “Tolong dong bilangin PLN suruh hidupin. Kita tidak betah nih. Panas,” jerit Amelia kepada salah satu pengurus Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN). Rumah itu tadinya memang mau jadi markas partai itu. Tapi karena hanya menyabet 1,21 persen suara pada Pemilu 2009, partai itu tak lolos parliamentary treshold.
Tapi Amelia tak patah semangat. Dia bertemu Tommy Soeharto, dan lobi antara dua anak jenderal yang sempat berteru di masa lalu itu, akhirnya menghasilkan kesepakatan. Mereka beraliansi menghadapi pemilu 2014. Partai Nasrep pun berdiri. Amelia masuk jadi tim formatur.
Kini Nasrep telah terdaftar di Kementrian Hukum dan HAM untuk turut pemilu 2014. Kendati visi dan misi partai belum jelas, tapi jualan utama partai ini sudah bisa ditebak. Mereka membidik massa pemilih kecewa dengan kondisi reformasi yang telah berjalan 13 tahun.
"Nasional Republik akan mewadahi rakyat yang mendambakan situasi zamannya Pak Harto, yang aman, damai, dan sejahtera sandang pangan dan papan, " ujar salah satu inisiator Partai Nasional Republik, Letnan Jenderal Purnawirawan Edy Waluyo.
Menurut mantan Ketua DPRD DKI dua periode itu, kini Nasrep tengah menyiapkan mesin politiknya hingga ke 33 provinsi. Para elit partai itu masih dari wajah lama. Misalnya, Yus Usman Sumanegara (bekas Sekjen DPP Hanura), Sri Endang Astuti (Hanura), Dahlan Abdul Hamid (Bekas Ketua Umum Partai Bulan Bintang).
Selebihnya, kata Edy, Nasrep juga diperkuat bekas pejabat. Mulai dari purnawirawan, bekas bupati, Sekda, bekas camat, dan lain-lain. “Pembentukan embrio partai sudah hampir selesai. Kini kami tengah menyempurnakan AD/ART dan mempersiapkan deklarasi pada pertengahan Juni mendatang.”
Kedengarannya partai ini sangat bersemangat untuk lolos verifikasi. Apalagi, ada sedikit tonik penyegar dari survei IndoBarometer pekan lalu. Hasil survei itu: mayoritas rakyat Indonesia di semua provinsi menyatakan lebih suka kondisi di era orde baru ketimbang era reformasi. “Hasil survei itu membuat kami semakin pede,” kata Edy bangga.
***
Harus dicatat, survei IndoBarometer (lihat Infografik: Survei Rindu Soeharto) itu menyeruak di tengah aneka kisruh politik pemerintahan SBY sekarang. Sebut saja mulai kasus Century, NII, kasus suap proyek Sea Games, atau drama politik seperti kasus studi banding, gedung mewah DPR, sampai kepergok nonton video porno di rapat paripurna.
Survei dengan metode multistage random sampling dan melibatkan 1200 responden itu mengungkapkan hal cukup menggegerkan. Sebanyak 55,4 persen rakyat menganggap kondisi umum di era reformasi tak lebih baik dari era Orde Baru.
Survei menunjukkan mayoritas rakyat (40,9 persen) merasa kondisi pemerintahan Soeharto lebih baik daripada kondisi saat ini. Cuma 22,8 persen beranggapan sebaliknya. Lebih spesifik lagi, mayoritas masyarakat (36 persen) bahkan lebih menyukai Soeharto daripada Susilo Bambang Yudhoyono (20,9 persen) atau Soekarno (9,2 persen) sebagai Presiden.
Pro dan kontra atas survei itu pun pecah. Mereka yang punya pengalaman buruk dengan orde baru sontak menyergah. "Saya rasa, (survei) salah. Apa kondisi Orde Baru yang lebih baik? Nggak ada yang baik, saya rasa..." kata Taufik Kiemas, suami bekas Presiden Megawati Soekarnoputri.
Dukungan atas hasil survei justru datang dari Ketua DPP Golkar, Priyo Budi Santoso. Secara pribadi Priyo mengaku percaya terhadap IndoBarometer yang dinilainya sebagai lembaga survei kredibel. “Tidak perlu ditanggapi dengan kalang-kabut. Biasa-biasa sajalah. Survei kan cerminan suara masyarakat, jadi harus diterima dengan lapang dada oleh semua pihak,” kata dia.
Reaksi berbeda juga datang dari kalangan peneliti. Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menemukan hasil survei IndoBarometer mirip survei dibuat LSI, terutama hal anjloknya popularitas SBY. "Survei [IndoBarometer) itu bisa benar, namun bisa salah. Tapi kalau tren turunnya sama," kata dosen Universitas Paramadina dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu.
Dari hasil surveinya, cuma 27 persen masyarakat yang menilai SBY berhasil mengurangi kemiskinan. Tapi toh itu tak membuat rakyat percaya pada figur Orde Baru. Hasil survei terakhir LSI pada Oktober 2010 lalu, misalnya, Tommy Soeharto hanya dipilih oleh 0,8 persen responden.
Bantahan hasil survei IndoBarometer diungkapkan dari timur pulau Jawa. Peneliti dari Lembaga Pusat Studi Demokrasi dan HAM Universitas Airlangga Muhammad Asfar mengatakan kaget dengan hasil survei itu. “Terus terang saya belum pernah menemukan data semacam itu,” kata dia. Menurut Asfar, survei itu tak memenuhi dua syarat logika perilaku pemilih (voting behaviour).
Bila temuan survei itu benar, kata Asfar, seharusnya peningkatan popularitas itu tergambar pada partai yang didirikan oleh Soeharto--dalam hal ini Golkar, serta pada partai orang-orang dekat Soeharto. Asfar memang melihat adanya peningkatan pada Partai Golkar. Tapi itu tidak dilatarbelakangi oleh kerinduan masyarakat terhadap masa lalu. “Tapi, lebih karena faktor manajemen kepemimpinan dan finansial yang dimiliki Golkar saat ini,” kata Asfar.
Hal itu juga tak terjadi pada partai orang dekat Soeharto. Contohnya Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Partai yang didirikan Jendral (Purn) R Hartono dan mengusung Siti Hardijanti Rukmana itu, ternyata tak sukses meraup banyak dukungan. Pada Pemilu 2004, suara partai ini jeblok, hanya menggantang 2,11 persen suara.
Pada pemilu berikutnya makin parah, PKPB cuma meraih 1,4 persen suara, melorot satu peringkat menjadi urutan ke 13. Berdasarkan fakta itu, Asfar tak yakin bila pada pemilu mendatang nasib Tommy dan Nasrep akan berbeda. “Mereka tak akan dapat dukungan pemilih yang signifikan,” ujar Asfar.
Sementara Muhammad Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer, membela hasil survei lembaganya. Ia membantah bila surveinya dibayar, atau dianggap sekadar alat propaganda orde baru. Menurutnya, persepsi masyarakat memang seringkali berseberangan dengan kondisi objektif. “Yang disurvei ini adalah persepsi masyarakat saat ini," kata Qodari.
Setidaknya, temuan IndoBarometer itu juga mirip hasil survei Pusat Kajian kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis). Puskaptis yang menggelar survei pada 15-22 Maret 2011 terhadap 1.250 sampel di seluruh Indonesia menunjukkan 52 persen responden menginginkan kondisi yang sama seperti Orde Baru.
Sementara, 25 persen responden lainnya menyatakan kondisi saat ini sama saja dengan zaman orde baru, dan 23 persen lainnya tidak tahu atau tidak menjawab. Direktur Puskaptis Husin Yazid menilai kemerosotan popularitas pemerintahan SBY disebabkan politik citra yang dianut pemerintah. " Segala masalah ditutupi dengan politik pencitraan. Masyarakat sudah jengah," katanya.
Sebagai komoditas politik, popularitas putra-putri Soeharto, pun masih diperhitungkan. “Mereka memilih trah Soeharto. Masih memiliki daya tarik,” kata politisi Hanura Yuddy Chrisnandi. Yuddy sempat beraliansi dengan Tommy Soeharto pada Munas Golkar 2009. Hanya saja, kata Yuddy, popularitas itu masih harus didukung upaya riil di lapangan, semisal menghimpun dukungan di daerah.
Solanya, kerinduan itu tak berarti rakyat setuju memilih figur orde baru. “Bila saat ini disuruh memilih, tentu masyarakat masih akan tetap memilih Presiden SBY ketimbang figur orde baru," kata Yuddy.
***
Apapun kontroversi survei itu, kerinduan atas orde baru adalah nyata. Lihat saja acara tahlilan 1000 hari wafatnya Soeharto, digelar serempak baik di kediaman keluarga Cendana, maupun di Masjid At-Tin Taman Mini Indonesia Indah, Astana Giri Bangun Karanganyar, serta di Desa Kemusuk Bantul Yogyakarta, Jawa Tengah, pada 22 Oktober 2010.
Ribuan orang dari berbagai kota hadir pada acara itu. Jalanan macet oleh bus peserta yang parkir mengular di sekitar lokasi. Di jalanan Pantai Utara Jawa, misalnya, tak jarang kita menemukan ungkapan kerinduan itu di lukisan belakang bak truk. Ada gambar Soeharto tersenyum, dengan tulisan: “Iseh Penak Zamanku (Masih enak zaman saya)".
Mungkin juga keresahan atas situasi sekarang menjadi semacam peluang politik, katakanlah bagi seorang Iwan Panggu mendirikan organisasi Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto, yang disingkat IMAHA, pada tahun 2006 lalu. “Kami ingin menampung orang-orang yang merindukan zaman di mana kita bisa merasakan keamanan, ketentraman dan kemudahan dalam mencari makan,” ujar mantan wartawan itu.
Iwan mengklaim wadahnya menuai banyak dukungan. Mereka sesekali berkumpul di “markas” IMAHA yang berupa warnet milik Iwan di Lenteng Agung Jakarta Selatan. Menjelang Soeharto wafat 4 Januari 2008, mereka rajin membela penguasa orde baru itu dari pelbagai hujatan.
Setelah Soeharto mangkat, wadah itu pun bubar jalan. Tapi kini Iwan ingin menghidupkannya lagi. Belum lama ini ia pun membuat laman grup IMAHA di jejaring sosial Facebook dan Twitter. Pendukungnya tak banyak, baru 481 orang. Itu pun banyak anggota yang protes, merasa dimasukkan tanpa persetujuan, tapi tak tahu caranya keluar dari grup itu. Sementara di Twitter, IMAHA mengikuti 820 orang, dan hanya diikuti oleh 169 follower.
Iwan memang unik. Koran Prioritas tempat dulu dia bekerja pernah dibreidel Soeharto gara-gara terlalu keras. Tapi dia merasa ketegasan model Soeharto diperlukan memulihkan keamanan di tanah air. “Dulu peristiwa pemboman bisa dihitung dengan jari. Kini, bagaimana setelah zaman reformasi?” kata bekas redaktur di harian Media Indonesia itu.
Peneliti LIPI Profesor Ikrar Nusa Bhakti mengatakan, nostalgia atas orde baru sebenarnya bukan hal baru. Saat reformasi pada 1999 pun, ungkapan itu sudah mulai muncul. Kini, kerinduan itu tampaknya menjadi semacam pelarian atas keresahan kondisi saat ini. Indikatornya, antara lain, bisa dilihat dari harga bahan pangan, kesehatan, maupun biaya pendidikan.
“Saya sendiri tak memungkiri, di zaman Soeharto saya sangat menikmati biaya kuliah yang murah, cuma Rp 15 ribu per semester,” ujar Ikrar yang dulu belajar di Universitas Indonesia itu. Kini, kata Ikrar, biaya kuliah melambung tinggi, jutaan rupiah setiap semester. Ia juga mengkiritik pelayanan kesehatan yang kian buruk. Puskesmas yang ada saat ini, kata dia, lebih buruk daripada puskesmas pada masa Soeharto.
Namun, Ikrar mengingatkan, semua ‘kenikmatan’ yang ditawarkan oleh orde baru, adalah hasil hutang luar negeri yang musti ditanggung rakyat, juga penyerahan kekayaan sumber daya alam kepada asing, serta mengorbankan kebebasan hak asasi individu. “Kita jangan sampai lupa bahwa stabilitas saat itu diperoleh dengan tangan besi. Di bawah pijakan sepatu lars, di ujung moncong pisau bayonet senapan. Apanya yang enak?” kata Ikrar.
***
Dua jam menunggu, akhirnya rombongan mendapat kabar: Tommy tak bisa hadir. Listrik masih juga padam. Sekitar pukul empat sore, akhirnya rombongan itu menggeser pertemuan mereka ke Hotel Menteng Jakarta Pusat. Sekitar 25 orang langsung memenuhi meja setengah lingkaran.
Rapat itu juga memantik perselisihan. Mereka beradu pendapat tentang siapa yang menjabat Ketua Umum dan Sekjen Partai. Amelia mengatakan sejak awal Tommy meminta dirinya untuk menjadi ketua Partai Nasrep. Syaratnya, Amelia menghibahkan seluruh aset PPRN termasuk seluruh kantor cabangnya, kepada Nasrep.
Tapi Yus Usman tak setuju. Maklum, Yus adalah perintis Partai Nasrep. Dia orang pertama yang sejak awal menggadang-gadang Tommy sebagai calon presiden, bahkan ketika ia masih menjabat Sekjen Hanura. Sampai menjelang senja, rapat itu belum sampai pada kata sepakat. Tommy Soeharto tak datang, dan persoalan internal partai itu belum terpecahkan. (Laporan Fajar Sodiq|Solo)[np]

18/06/09

KOLEKTIFITAS YANG TER(DI)LUPAKAN

Komentar terhadap artikel yang dimuat Kompas Jatim, Senin, 20 april 2009, oleh Bagong Suyanto tentang ancaman PHK di Jatim.

Dalam artikel tersebut, Suyanto memprediksi akan meningkatnya PHK para pekerja di Jawa Timur (Jatim) sampai akhir tahun ini akibat belum ada tanda-tanda membaiknya ekonomi paska krisis global. Prediksi dari berbagai pakar ekonomi pun bernada sama. Beberapa program telah digulirkan. Namun menurut Suyanto program yang digulirkan masih bersifat instan, pengedepanan produksi dari pada distribusi kesejahteraan dan cenderung mempenetrasikan teknologi dengan dalih pembangunan demi melancarkan produksi.

Melalui masalah tersebut, Suyanto menggagas tiga tawaran solusi yaitu pertama melalui program pemerintah maupun program multiplier effect dari investasi swasta. Kedua, meningkatkan kualitas pencari kerja dan TKI/TKW agar lebih berdaya dalam kebutuhan pasar bebas. Ketiga, bantuan khusus bagi sektor industri kecil, sektor informal dan sektor perdagangan tradisional. Nampaklah sudah tawaran Suyanto yang berpretensi mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya dengan melupakan modal sosial masyarakat Jatim.

Ada yang aneh dalam solusi yang ditawarkan Suyanto, yaitu masalah pekerja di Jatim yang berporos pada pemerintah dan selanjutnya disosolusikan dengan poros pemerintahan pula. Ini Blunder. Tentunya sedikit menghilangkan nilai kemuliaan seorang akademisi dalam merespon lingkungan dan permasalahannya.

Akar permasalahan Jatim, menurut saya adalah individualisme yang akut sebagai akibat dari tekanan ekonomi dan pendapatan pas-pasan para pekerja. Padahal modal sosial masyarakat Jatim yang sudah ada secara turun temurun adalah kolektifitas yang terpendam dalam kesadaran --meminjam istilah Cliford Geertz- kaum abangan dan santri. Abangan mewarisi Nasionalisme Soekarno, dan Santri mewarisi kultur NU. Jika dilihat dari situ bukanlah modal kapital yang menjadi tujuan gerak ekonomi masyarakat kita. Bukankah untuk melangkah ke depan harus keluar dari kotak dan kotak itu adalah industrialisasi yang melulu kerja dan gaji tetap bagi pekerja.

Kolektifitas

Semboyan "mangan gak mangan asal sing penting ngumpul" (Makan tidak makan, asal kumpul) menyiratkan semangat gotong royong melalui kepemilikan bersama dalam menggerakkan ekonomi. Contoh kepemilikan bersama berupa sampan dan kail masyarakat pesisir pantura dan Madura. Kepemilikan kolektif ini terbukti mengurangi resiko kerugian saat terjadi krisis, naiknya harga BBM dan musim sepi ikan.

Belum lagi kolektifitas para petani di desa yang mewujud dalam upacara pesta panen raya. Seolah sudah bersepakat, panen selesai segenap petani desa berkumpul membawa makanan ke Balai Desa atau Surau untuk dinikmati bersama-sama. Petani yang hasil panennya baik maupun buruk melebur jadi satu dalam pesta panen raya, makan dalam satu tempat, satu waktu dan satu wujud ekspresi bersyukur. Pejabat desa, pamong dan tokoh masyarakat tidak ada beda di dalam pesta itu.

Bersepakat dengan Fukuyama bahwa berbagai jenis pranata atau kelembagaan sosial merupakan unsur dari modal sosial yang dimiliki oleh suatu masyarakat, di samping sistem nilai, seperti etika sosial dan etika penghormatan sosial, etos kerja, saling percaya, jaringan-jaringan hubungan sosial, sistem pembagian kerja secara seksual, dan unsur kebudayaan yang lain.(Fukuyama, 2002). Modal sosial berupa kolektifitas akan siap bersaing di pasar bebas.

Korban-korban PHK sebagai korban dari system kerja kontrak dan pemutusan sepihak tentu butuh bantuan. Pemerintah tidak bisa berlepas tangan, tetapi juga kurang tepat jika beban berlebihan diberikan pada pemerintah. Sebab pemerintahan hari ini masih bergantung pada investor dan pinjaman asing. Sehingga apabila sirkulasi hutang asing terus digenjot dengan dalih kebutuhan masyarakat, ini bukan solusi strategis bervisi jangka panjang, tetapi sekedar menutup kebutuhan hari ini dengan mengorbankan masa depan dengan hutang yang menggunung.

Ibarat kata, lebih baik memberi kail dari pada ikan, lebih baik memberi modal usaha dari pada hasil. Semangat inilah yang terus digalakkan. Ya, modal dalam bahasa Adam Smith adalah Kapital. Tetapi arti ini kurang tepat jika menjadi maindstream pemegang kebijakan dan masyarakat Jatim. Sebab Jatim dalam kulturnya memiki modal kolektifitas yang tidak boleh ter(di)lupakan begitu saja. Kolektifitas dalam kebersahajaan, tepo seliro dan keuletan lah modal utama kebangkitan masyarakat Jatim.

Satu sample masyarakat pesisir di atas misalnya, mereka adalah para nelayan yang relatif sulit memiliki kapal sendiri. Dengan memanfaatkan modal sosial berupa kolektifitas, ketidakpemilikan perahu dan mahalnya biaya oprasional melaut bisa diatasi. Pembagian beban, tanggung jawab dan mencapai kesejahteraan secara bersama-sama bergerak mengikuti gerak perekonomian masyarakat pesisir.

Modal sosial yang terbangun secara turun temurun ini tentu tidak boleh (ter)dilupakan begitu saja. Kerja kolektif semacam itu merupakan modal kebangkitan dengan model kerjasama antar pelaku ekonomi yang relevan dengan tantangan pembangunan ekomonomi kerakyatan di Jatim.

Pemerintah Jatim dibawah komando Pak De Karwo dan Gus Ipul tentunya harus banyak mengambil kebijakan di hulu dari pada muara. Satu contoh kebijakan rencana penetapan Lahan Abadi Jatim 1,7 juta hektar untuk pertanian yang harus didukung sepenuh hati oleh masyarakat Jatim. Di pesisir bisa diambil inisiatif kebijakan tegas tentang penertiban limbah-limbah pabrik, bom ikan dan penanaman hutan bakau. Sedangkan muara serahkan sepenuhnya pada ormas-ormas yang memang dekat dengan masyarakat Jatim.

Melalui modal sosial berupa kolektifitas dalam berekonomi akan membuat pemutusan kontrak kerja sebagai akibat krisi global kurang mengkhawatirkan. Kolektifitas dalam kebersahajaan, tepo seliro dan keuletan masyarakat Jatim mengkooptasi perbedaan kelas ekonomi dan sosial. Kalaupun perlu, hari buruh yang akan jatuh pada tanggal 1 Mei nanti tidak perlu unjuk raja buruh besar-besaran. Cukup kembali pada diri sendiri sebagai masyarakat Jatim yang gandrung akan kolektifitas.

18/02/09

AYO JAMA'AH DI RUANG SOSIAL


AYO JAMA’AH DI RUANG SOSIAL
Nanang Wahid Zatmiko *)


Apapun makanannya minumnya tetap diawali bismillah. Apapun perubahan positif bahan bakarnya tetap dimulai dengan jama’ah. Kalimat-kalimat tersebut memberi arti betapa pentingnya mentransformasikan nilai-nilai ketauhidan dalam setiap sendi kehidupan melalui jam’ah. Karena jam’ah terbentuk bukan karena keterpaksaan, tetapi tuntunan Al-Qur’an. Melalui kitab suci itulah cara pandang masyarakat muslim seharusnya, dimana telah memberikan manifesto kehidupan kini, disini, nanti dan dimanapun serta kapanpun.
Suasana kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat. Jika sistem nilai terbatas pada ”kini dan disini” maka upaya dan ambisinya menjadi terbatas pada ”kini dan disini” pula. Allah tetap menjanjikan kesuksesan mereka apabila menjalankan sunnatullah, tetapi kesuksesan yang terbatas pada ”kini dan disini” selanjutnya akan menjebak diri pada kejenuhan, mandek, akibat rutinitas dan akhirnya sampailah ajal. Al-Qur’an mengemukakan : Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka kami segerakan baginya sekarang (di dunia) ini, apa yang kami kehendaki bagi yang kami kehendaki, kemudian kami tentukan baginya neraka jahannam. Ia akan memasuiknya dalam keadaan tercela dan terusir. (Al-Isra’ ; 18)
Al-qur’an sangat menekankan kebersamaan anggota masyarakat seperti sejarah bersama, tujuan bersama, catatan perbuatan bersama bahkan kebangkitan dan kematian bersama. Dari sini lahir gagasan amar ma’ruf nahi munkar, serta konsep fardhu kifayah dalam arti semua anggota masyarakat memikul dosa bila sebagian mereka tidak melaksanakan kewajiban tertentu.
Meskipun Al-Qur’an menisbatkan watak, kepribadian, kesadaran, kehidupan dan kematian kepala masyarakat, namun Al-Qur’an tetap mengakui peranan individu agar setiap orang bertanggungjawab pada diri dan masyarakat. Kisah keberhasilan rasul, pembesar-besar suatu kaum yang diceritakan al-qur’an maupun dikabarkan antar generasi tentang keberhasilan individu membangun masyarkat dan menentang kebejatan sangat banyak. Keberhasilan mereka pun berdasarkan satu hukum kemasyarakatan yang pasti yang ditopang seluruh anggota masyarakatnya.
Dalam Al-Qur’an sarat dengan uraian tentang hukum yang mengatur lahir, tumbuh dan runtuhnya masyarakat. Sebagian diantaranya tersebut di atas adalah hukum kemasyarakatan yang pasti, tidak berbeda dengan hukum-hukum alam atau bisa dinamakan sunnatullah. Berulang kali dinyatakan dalam Al-Qur’an : ”engkau tidak akan mendapatkan perubahan terhadap sunnatullah” (al-ahzab ;62 )
Salah satu hukum kemasyarakatan yang populer dilafadkah orang meskipun tak jarang diterjemahkan dan dipahami secara keliru adalah firman Allah yang membincang hukum perubahan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satu kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental mereka). (Yusuf ; 11)
Menurut Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an, dikemukakan bahwa ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah, dan kedua, perubahan keadaan diri manusia yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan tuhan terjadi secara pasti melalui hukum kemasyarakatan yang ditetapkan, tidak patut disangkal karena tidak mengenal pembeda-bedaan antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.
Ma bi anfusihim yang diterjemahkan dengan ”apa yang terdapat dalam diri mereka” terdiri dari dua unsur pokok, yaitu nilai-nilai yang dihayati dan iradah (kehendak) manusia. Perpaduan keduanya memiliki daya dorong kuat untuk perubahan atas sesuatu.
Di sini lafadh anfusihim tidak bermakna individual tetapi makna ini tertuju pada masyarakat/kelompok (Qoum) atau diri-diri mereka. Ini berarti bahwa seseorang, betapapun hebat dan briliannya, tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan hawa-hawa perubahan kepada sekian banyak orang, yang pada gilirannya menghasilkan gelombang, atau paling sedikit riak-riak perubahan.
Pentingnya keterikatan antara pribadi dan masyarakat, serta besarnya perhatian Al-Qur’an terhadap menjamurnya perubahan positi, diantarkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang menekankan tanggung jawab perorangan dan tanggung jawab kolektif.
Tidak ada satu makhluk (berakal) pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada tuhan yang maha pemurah sebagai hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam ; 93-95)
Ayat diatas adalah satu dari sekian ayat yang menekankan tanggung jawab individu. Sedangkan tanggung jawab kolektif, salah satunya tertuang dalam arti ayat berikut ini.
(di hari kemudian) kamu akan melihat setiap umat/masyarkat bertekuk lutut, setiap masyarakat diajak untuk membaca kitab amalnya (Al-Jatsyiah ; 28). Al-Qur’an juga menginformasikan bahwa setiap masyarakat mempunyai ajal. Setiap masyarakat mempunyai ajal (Al-A’arfa ; 34).
Kehancuran masyarakat atau sampai pada ajalnya tidak berarti mengakibatkan kematian seluruh anggota masyarakat, bahkan secara individual mereka tetap hidup. Kisah pengusiran Nabi Muhammad dan pengikutnya dari Makkah oleh kafir Quraish menceritakan betapa setelah 10 tahun berselang, kekuasaan, pandangan dan kebijaksanaan kafir quraisy Makkah habis dan berubah total digantikan kebijaksanaan ajaran Rasulullah yang rahmatan lil alamin.
Akhirnya, dalam misi besar di dunia dan akhirat mari kita senantiasa merapakan barisan, dalam jama’ah atau masyarakat kita agar senantiasa diridhoi Allah . Karena hanya dengna ridhonya dan mengikuti sunatullah lah kehidupan kita akan menuai keberhasilan kini, disini, nanti dan dimanapun serta kapanpun Rasa berbagi, bergandengan tangan dan tolong menolong sebagai anggota masyarakat harus kembali kita tanamkan. Pandangan-pandangan dan kebijaksanaan yang mengarahkan pada sikap individulistik harus kita berangus dengan kesukaan terhadap berjam’ah di setiap ruang dan waktu. Junjungan kita Rasulullah saw bersabda : tidaklah sempurna iman seseorang mukmin, sampai ia mengharapkan saudara muslimnya, sebagimana ia mengharapkan dirinya sendiri.


*) Anggota Balitbang PC. PMII Kota Malang.

12/02/09

BERDIKARI ALA TEATER MAHASISWA

Riuh ramai aktifitas Mahasiswa dimulai dari lingkungan akademik tak jarang menghadapi kendala pendanaan untuk mengembangkan aktifitasnya. Entah karena belitan ekonomi yang ikut membentuk pola ketergantungan atas ada tidaknya dana atau memang Ideologic-Approach salah kaprah. Tetapi tidak demikian dengan teater mahasiswa, dengan memukul rata semua teater mahasiswa, mereka berproses dengan berdiri di kaki sendiri. Sejak proses persiapan sampai saat pentas property dipersiapkan dengan berbagai macam cara yang salah satunya adalah memulung sampah.


Dengan cara berpakaian yang sama sekali tidak modis, parahnya berkesan sampah, mereka berprilaku tangguh lebih dari pada orang biasa. Hanya dengan memulung sampah-sampah pesta, kegiatan mereka tidak memiliki kendala berarti seputar pendanaan. Dengan memulung sampah pesta mereka belajar nerimo (Iklas) siap nerima keadaan apapun dan menghilangkan penyakit hati seperti sombong, egois, merendahkan orang lain. Padahal tidak jarang diantara mereka bernasab si Kaya, yang tinggal bilang A akan segera terkabul.


Pertimbangan pertama, dengan memulung sampah bisa turut serta menjaga kebersihan lingkungan. Bukankah lingkungan bersih berpengaruh pada pengembangan potensi masyarakat dan juga dapat mengurangi resiko banjir? Kedua dengan memulung sampah bisa menambah perbendaharaan saku hasil dari kantong-kantong jual beli rongsokan yang tersebar hampir di setiap Kota. Ketiga, memulung sampah mampu menghilangkan sifat-sifat egoisme, sombong dan merendahkan orang lain.


Alangkah potensilanya Berdikari (Berdiri di Kaki Sendiri) ala teater mahasiswa apabila massif menjadi pola gerakan masyarakat untuk mengentaskan ketergantungan pada pemerintah. Salah apabila sedikit masalah selalu di larikan ke atas, padahal tidak melulu kesalahan ada di atas. Tetapi bukan berarti pemerintah berleha-leha duduk di tampuk kekuasaan. Pemerintah harus lebih pro-aktif dalam memproteksi rakyat dari intervensi modal asing dan anak pianaknya.


Andai dengan sampah saja manusia Indonesia yang dikenal paling konsumtif bisa hidup, kenapa tidak mulai esok canangkan gerakan memulung sampah. Melalui momen 100 tahun kebangkitan Nasional, dari hal terkecil, setiap anak bangsa bisa ambil peran. Sekecil apapun peran itu, pasti akan menuai hasil di sekala yang lebih besar.


EVALUASI GERAKAN MAHASISWA


Bertanya, masih pantaskah mahasiswa di tahun 2009 ini dielu-elukan sebagai pengawal tegaknya kedaulatan rakyat apabila sepanjang 2008 lalu gerakan mahasiswa terseret arus anarkisme. Nada apologetik bahwa ini adalah pilihan gerakan agar sang penguasa mau mendengar aspirasi mahasiswa menyeruak. Di pihak lain, kerumunan masa memporak porandakan kantor KPUD dan kantor ormas tertentu dengan menamakan dirinya rakyat pro demokrasi atau apalah. Dua elemen berbeda, bergaya sama berujung anarkisme. Satu terdiri dari kaum intelektual kampus dan satunya lagi terdiri dari barisan sakit hati buah kompetisi politik. Wabah anarkisme ini seolah tak kunjung usai, besar kemungkinan akan memuncak kembali menjangkiti masyarakat kita 3-5 bulan pada momen RI I dan RI II.

Pergantian tahun dari 2008 ke 2009 masehi dan dari 1429 ke 1430 hijriyah harus bisa dijadikan momen evaluasi gerakan. Sudah 10 tahun lebih 6 bulan peristiwa gerakan mahasiswa 1998 berlalu, tetapi kenapa pilihan gerakan menumbangkan penguasa masih berkelanjutan. Penulis bersepakat dengan model gerakan penggulingan kekuasaan diktator orde baru di era 98, tetapi era ini masihkah ada pemimpin yang berani menjadi tiran. Saya rasa kalaupun ada, mereka sudah pupus dengan sendirinya. Faktornya tentu hampir semua pilar trias politika berjalan semestinya. Bak gayung bersambut rakyat pun mulai peduli dengan nasibnya sendiri, tidak bergantung pada pemimpinnya belum termasuk mahasiswa. .
Pilihan-pilihan gerakan mahasiswa turun jalan yang pasti berujung anarkis patut dicurigai sebagai massa ditunggangi. Dalam artian ditunggangi secara politis dan ditunggangi angkatan 1998 secara ideologis. Ditungganginya secara politis bisa dilihat dari munculnya pahlawan-pahlawan dengan mengusung simbol-simbol terentu. Akibatnya keuntungan popularitas diraih untuk menambah jumlah partisipan di dalam jejaringnya. Tunjuk hidung saja seperti anak-anak HTI, HMI, KAMMI, GMNI, SPM dan PMII tidak kalah ketinggalan.

Sedangkan gerakan mahasiswa masih ditunggangi angkatan 1998 secara ideologis bisa dilihat dari wacana apapun yang dikatakan birokrasi bohong, mahasiswa yang benar. Pemahaman itu seolah sudah menjadi apriori yang tak mudah untuk dibantah. Padahal cara pandang semacam itu harus dikritik. Dalam materi perektrutan anggota organisasi kepemudaan terus saja mentradisikan wacana lawan sebagai warisan angkatan 1998 yang bersumber pangkal marxis dan che guevara sebagai ikon. Kritik paling nyata tentu materi-materi pelatihan kepemudaan dijejali mimpi-mimpi para pemberontak yang tak berkesudahan. Bahkan condong membentuk penjajah baru dengan kemampuan hipnotis massa dalam podium.

Pengulangan sejarah menjangkiti gerakan mahasiswa di tahun 2008. mahasiswa di jakarta, sulawesi, medan, jawa timur dan ambon terdiagnosa begitu. Tidak ada beda dengan mahasiwa yang mengusung nasionalisme, demokrasi maupun islam. Semua berujung pada pembentukan tiran baru. Karena pada dasarnya berstruktur ideologi sama yakni mengekor pola 1998 yang berujung pangkal pada marx denga aksi massa-nya. Dimana saat struktur dominan dapat ditumbangkan, perlahan muncul struktur dominan baru yang menindas yang lain terus berulang dan berulang.

Tahun 2009 bulan kedua ini, semua mesti baru termasuk format dinamisasi gerakan. Tidak perlu takut untuk mendefinisikan diri sebagai kader pergerakan, karena pada setiap ciptaaan butuh akan identitas gerak. Minim atau bahkan tidak adanya gerak hanya akan mengantarkan diri pada kebekuan lantas mati. Ayo bergerak. Tangan Terkepal Dan Maju Kemuka.





Produk Bisnis Abe